Sebuah sakit yg ga pernah kami inginkan, Jumat 21 November 2025 sore itu ibu masuk RS karna pembuluh darah kepala sebelah kiri pecah. aku dapat kabar dari abang jam 6 sore tepat jam pulang kerjaku. aku buru-buru pulang buat nyusul ke RS, tiba disana ibu udah ga sadar. ibu udah di diagnosa stroke ringan dan kondisi mempengaruhi motorik, penglihatan, hingga pernafasan.
lemas rasanya dengar hasil diagnosa itu. jatuhlah tangis kami sekeluarga, kami ngerasa bersalah sama dudut karna kabar ibu ga sampai ke telinga dudut. dudut lg ngejar sidang skripsi kami paham situasi ini bakal buat dia hancur, keputusan untuk ga ngabarin dudut udah terbaik buat keadaannya walaupun emang tambah hancur jika tau nantinya.
malam itu juga ibu diopreasi bagian kepala tepat pukul 23.45 selesai pukul 01.55 setelah diruang operasi ibu dipindah diruang icu. sementara kami menunggu diruang tunggu dgn perasaan campur aduk, tangisku ga pernah berhenti. berganti hari sore itu kami diizinkan menengok ibu, ibu belum bisa membuka mata. pernafasan masih dibantu dgn alat bantu, namun respon tangan kiri ada untuk genggam dilain sisi tidak untuk sebelah kanan. hancur yg kami terima bertubi-tubi.
ibu dirawat di rumah sakit selama 8 hari kami sekeluarga bergantian buat jaga ibu disana. di jam-jam tertentu kami diperbolehkan menengok ibu hanya 30menit aja. banyak teman, tetangga dan kerabat keluarga datang buat jenguk ibu. makin hari kondisi ibu membaik sampai ibu membuka mata tapi ibu belum bisa buat bicara, dan pada akhirnya ibu pulang kerumah dalam keadaan stroke ringan sebelah badan, tangan dan kaki kiri aktif huat motorik tapi makan minum tetap pake alat bantu.
kami sekeluarga bergantian merawat ibu dirumah, apapun kebutuhan ibu kami usahakan yg terbaik. dari kontrol perminggu kami sempatkan hari untuk ibu, pulang kerumah rasanya jauh berbeda ibu makin membaik tapi sangat pelan. rutinitas kami sekeluarga jauh timpang dari biasanya, setiap detik rasanya kami harus standby kalo dengar apapun dari kamar ibu. banyak kerabat datang ke rumah untuk ibu banyak support yg datang.
dan sampai akhirnya hari itu tiba. Minggu 21 Desember 2025 kondisi ibu drop nafas tidak beraturan, abang buru-buru telfon ambulan untuk bawa ibu ke rumah sakit. sampai disana Tuhan berkehendak lain, tepat pukul 19.15 ibu menghembuskan nafas terakhir. dan pukul 19.47 abang telfon ngabarin aku kalo ibu sudah ga ada, dunia rasanya runtuh bertubi-tubi dikepalaku. aku dgn kondisi masih kerja aku bergegas ijin untuk pulang, tibalah dirumah. rumah sudah ramai dgn orang-orang, tangis ini tak terbendung dirumah.
sejak malam itu kami telfon buat ngabarin dudut kalo ibu sudah ga ada, segera mungkin kami cari tiket buat dudut pulang dari jatinagor. besar salah kami sekali ngasih kabar ke dudut kabar yg benar-benar buruk. ibu pulang dari rumah sakit dan kami sambut dgn tangis dirumah, dan malam itu aku, mas imam, mas eka mandiin ibu buat terakhir kalinya. lewat hari jam 06.00 pagi dudut tiba dirumah, turun dari mobil tangisnya pecah “maafin kami abang-abangmu dut”. hari itu Senin 22 Desember 2025 pukul 10.00 ibu dimakamkan, dan hari itu aku, mas imam, mas eka mengantar ibu sampai liang kuburnya. hancur berkeping rasanya hari itu.
Bu, kami anak anakmu meminta maaf atas segala perilaku. kami sangat sangat berterima kasih atas semua kasih sayangmu selama ini. insyaallah kami ikhlas ibu pergi. khusnul khatimah untuk ibu :’)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar